Rabu, 09 Oktober 2013

satu


Malam Terakhir Bulan Agustus Di Jogja

Tak terasa hari sudah pagi, pukul 03.15 ku terbangun dengan suara panggilan sahur dari masjid depan kos ku. Seketika ku membuka mata ku tersadar ini adalah pagi terakhirku dijogja bulan ini. Sahur kali ini aku teringat pada seseorang yang tadi malam berkirim pesan melalui hpku. Dia anak yang satu fakultas denganku, tapi berbeda jurusan, panggil saja dia dewi. Anak asli jogja yang murah senyum, ramah. Ku kirim pesan untuk membangunkan sahur  padanya. Sejenak ku tinggal handphoneku di dalam kamar. Ku menuju kamar mandi untuk cuci muka. Saat ke kamarmandi aku bertemu dengan ibu pemilik kos. “kamu jadi pulang besok dek?” tanya ibu kos padaku, sejenak ku terdiam dan menjawab “iya bu. Permisi sayamau kekamar untuk sahur”. Baru melangkah 2 meter ibu kos kembali memanggilku “dek ini ibu masak banyak, ayo diambil ya. Dan kasih tahu teman- teman kamar lain ya,,” dalam hati ku bersyukur pagi ini aku mendapat makan sahur karena uangku mulai menipis. Dengan senyuman ku menjawab “iya bu makasih”. Ku ambil satu porsi nasi goreng buatan ibu kos. Hemmmm enak sekali baunya.
Ku bawa sepiring nasi goreng ke kamar dan ku panggil teman- teman yang masih dikamarnya. Sesampainya dikamar ku lihat kembali handphoneku, tak ada satu pesan baru dari dia, ku kirim kembali pesan itu. Tapi tak pula dibalasnya. Ku lanjutkan sahurku dengan nasi goreng buatan ibu kosku. Hemmmmmm,,, nikmat. Selesai sahur tepat saat imsyak. Ku lanjutkan untuk sholat subuh dan kembali pada kasurku yang empuk untuk melanjutkan perjalanan ke pulau kapuk.
Pukul 09.00 ku terbangun ku lihat pesanku dibalas olehnya. Seketika ku berkirim pesan seluler dengan dia. Terselip rasa rindu mendalam pada dirinya. aku sangat dekat dengan dia, tapi sampai saat ini kami tidak punya status hubungan. Terakhir jaln dengannya 2 minggu yang lalu. Komunikasi pun kadang tak lacar, dan yang aku tunggu adalah jalan bersamanya karena aku merasakan kenyamanan saat bersamanya. Setelah beberapa jam kami berkirim pesan seluler atau sms akhirnya kami memutuskan untuk bertemu lagi sore ini. Karena aku tidak mungkin untuk membawa koperku sendiri ku minta dia menjemputku.
Perjanjiannya sih jam 16.00 tapi dia belum kelihatan batang hidungnya. Melihat kasur yang empuk ku ingin menunggu dia sambil tiduran. 17.35 dia baru sampai kos ku. Wah dasar cewek kalau belanja lama nya,saking lamanya jadi lupa waktu dan akhirnya telat kan? Keluar dari kamar dia menanyakan koperku. Setelah aku fikir kalau aku pamitan pada ibu kos sekarang motor teman satu daerah yang aku bawa akan aku taruh dimana? Akhirnya sore itu kita pergi untuk buka puasa bersama dan menemani dia mencari kenang-kenangan untuk temannya.
Sebelum puasa aku pernah jalan dengan dia, aku pernah mencium pipinya saat dibioskop dan itu yang membuatnya marah padaku. Tapi pada akhirnya dia memaafkan aku. Dengan skuter matic ku awali langkahku dengannya. Sore itu dia ingin berbuka dengan ayam, kamipun ke warung friedchiken yang lumayan terkenal di jogja. Biasanya aku panggil dia sayang tapi karena ini masih awal perjalanan panggilan itu belum aku sebut biasalah malu alias jaga image. Dan setelah makan barulah kami berkeliling malioboro untuk mencari kenang- kenangan. Akan tetapi dia mengingatkan aku untuk sholat maghrib. Berhentilah kami di masjid untuk sholat maghrib. Seusai sholat kami menuju malioboro untuk mencari kenang- kenangan. Seketika ku sahut tangannya dan ku gandeng dia, sampailah di tempat jual pernak- pernik dia asik memilih aku hanya menemaninya dan membantu dia memilih. Dapatlah apa yang dia cari yaitu gelang. Lanjut aku dan dia pergi untuk nongkrong di alun- alun. Teringat dulu pernah ku ajak dia ke beteng tapi belum jadi alias gagal, ku ajaklah dia ke benteng.
Sesampainya di benteng ku gandeng tangannya dan duduk berdua di atas benteng. Disana banyak pasangan yang sedang memadu kasih. Duduklah kami ditangga. Aku hanya melihat wajahnya, dia melihat langit dan sekitarnya dan saat melihat bukan yang masih separuh dia pun berkata “bulannya separuh ya?” aku bingung apa maksud dari kata- katanya “emang kenapa?” sejenak dia terlihat berfikir dan menjawab “seperti aku besok, kamu dan yang lain akan pergi meninggalkan jogja, aku sendirian dan tak lagi ada teman untuk jalan” dalam hati aku tertawa, dan menjawab”kan Cuma satu bulan’’ mungkin inilah jalan pikiran cewek melankolis, menghayati setiap peristiwa. Dia merunduk dan terlihat sedih, ku pegang tangannya dan ku berkata”masih banyak waktu”. Sekilas ku pandang matanya yang mulai terisi dengan airmata aku kasihan padanya. Ke pegang pipinya dan aku berkata “jangan sedih gitu dong,,,”  dia memandangku dan tersenyum sambil berkata “iya...”.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.25, aku tahu jarak tempat ini sampai rumahnya jauh. Aku kasihan padanya tapi aku salut akan satu hal dia adalah gadis yang penuh semangat. Selelah apapun dia akan terus menjalani. “mau pulang jam berapa kamu? Sekarang sudah jam 19.25?” dia langsung mendekap tanganku dan berkata “5 menit lagi ya. Karena ini malam terakhir kamu dijogja, dan bulan depan belum tentu kita bisa seperti ini lagi”baiklah ku penuhi keinginannya, tak sedikitpun aku curiga dengan kata- katanya. Lima menit sudah berlalu. Aku dan dia pun turun dari benteng dan mengambil motor lalu kami pulang. Dia mengantarkan aku ke kos.
Saat aku sudah sampai di kos kami pun berpisah. Dan aku harus siap- siap untuk kepulanganku ke kampung halaman esok hari.
***
Minggu, pukul 11.20 aku mulai terbang meninggalkan jogja. Sedih ku lihat jogja yang selama satu tahun ini memberiku banyak hal.
***
Sesampaiya di kampung halaman aku masih berkomunikasi dengannya, samapi terkadang aku yang jarang bahkan tak ku balas smsnya, ku dengar dia jatuh sakit. Siang itu dia sms aku, katanya dalam sms itu “aku sakit” lalu ku tanya dia kenapa dan bagaimana keadaannya dia bilang dia baik- baik saja. Mendengar itu aku tak kawatir. Dan sms tak aku lanjutkan.  Aku tahu selama ini aku dan dia dekat tapi kami tak mengikat hubungan kami dengan kata pacaran.Aku selalu menyia-nyikannya, kadang sms nya jarang aku balas, aku pun jarang menghubungi dia semenjak ada di kampunghalaman. 1 minggu sudah berlalu, tak ada kabar dari dirinya dan aku pun mengiriminya pesan berikut :
“hai...”
Satu jam kutunggu balasan darinya tak ada satu pesan yang datang darinya. Sampai akhirnya ada sms masuk dan itu sms dari dia,
“maaf ini siapa ya? Aku kakaknya dewi”
Aku pun kaget kenapa pesan ini yang membalas buka dia tapi kakaknya. Aku fikir mungkin dia sedang pergi jadi yang membalas pesan ini kakaknya, aku pun mulai mengetik kembali smsku untuknya.
“dewinya kemana kak? Saya teman kuliahnya ”
Lama sekali kutunggu balasan sms itu, 2 jam lamanya aku menunggu pesan darinya, akhinya di balas.
“dek mungkin ini berita buruk yang baru kamu dengar. Dewi sudah berpulang kerahmatullah 3 hari yang lalu...”
Syok aku membaca pesan itu, masih ku ingat kata- kata terakhirnya saat kami masih di benteng, dia bilang “seperti aku besok, kamu dan yang lain akan pergi meninggalkan jogja, aku sendirian dan tak lagi ada teman” apa itu adalah kata- kata perpisahan dengannya? Aku sungguh tak menyangka dia pergi secepat ini, dalam hati aku tidak percaya, bahkan aku pun menentang apa yang dikatakan kakaknya, tak dapat berfkir jernih aku pun mengirim pesan
“gak mungkin kak, seminggu yang lalu dia masih berkomunikasi dengan saya, ”
Tak lama kakaknya pun membalas smsku
“kami se keluargapun tidak percaya, tapi ini nyata dek. Dewi sudah berpulang disisi Allah. Mungkin seminggu yang lalu dia masih bisa berkomunikasi,saat itu dia memang sakit tapi belum terlalu parah, tapi malamnya dia mengeluh dadanya sakit, kami sekeluarga membawanya kerumahsakit dan dokter memfonis jantung dewi sudah tidak berfungsi dengan baik. Kami tidak tahu kalau selama ini dia mengidap lemah jantung. 2 hari dirumahsakit tak membuat keadaannya membaik justru semakin memburuk, dan jum’at malam pukul 20.00 dia menghembuskan nafas terakhirnya dek”
Air mataku menetes, aku memang laki- laki tapi aku tak lagi bisa menahan air mata ini. Teman dekat, calon pacarku saat ku kembali ke jogja nanti sudah berpulang ke rahmatullah. Tak ku sangka malam itu adalah malamterakhirku dengannya seperti apa yang dia katakan “bentar lagi ya. Karena ini malam terakhir, bulan depan belum tentu kita bisa seperti ini lagi”. Aku mulai tak berdaya dan apa yang harus aku lakukan, saat ku kembali ke jogja nanti tak ku temui lagi wajahnya yang terkadang marah, ceria, penuh semangat dan selalu menghadapi semua dengan senyuman. Sesalku dalam hati, karena aku dulu menyia-nyiaka kehadirannya. Dan saat ini dia sudah pergi,....
Semoga dia bahagia disana,,,
Terimakasih sudah menemaniku di malam terakhirku dijogja bulan agustus itu,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar