Malam Terakhir Bulan Agustus Di Jogja
Tak terasa hari sudah
pagi, pukul 03.15 ku terbangun dengan suara panggilan sahur dari masjid depan
kos ku. Seketika ku membuka mata ku tersadar ini adalah pagi terakhirku dijogja
bulan ini. Sahur kali ini aku teringat pada seseorang yang tadi malam berkirim
pesan melalui hpku. Dia anak yang satu fakultas denganku, tapi berbeda jurusan,
panggil saja dia dewi. Anak asli jogja yang murah senyum, ramah. Ku kirim pesan
untuk membangunkan sahur padanya.
Sejenak ku tinggal handphoneku di dalam kamar. Ku menuju kamar mandi untuk cuci
muka. Saat ke kamarmandi aku bertemu dengan ibu pemilik kos. “kamu jadi pulang
besok dek?” tanya ibu kos padaku, sejenak ku terdiam dan menjawab “iya bu.
Permisi sayamau kekamar untuk sahur”. Baru melangkah 2 meter ibu kos kembali memanggilku
“dek ini ibu masak banyak, ayo diambil ya. Dan kasih tahu teman- teman kamar
lain ya,,” dalam hati ku bersyukur pagi ini aku mendapat makan sahur karena
uangku mulai menipis. Dengan senyuman ku menjawab “iya bu makasih”. Ku ambil
satu porsi nasi goreng buatan ibu kos. Hemmmm enak sekali baunya.
Ku bawa sepiring nasi
goreng ke kamar dan ku panggil teman- teman yang masih dikamarnya. Sesampainya
dikamar ku lihat kembali handphoneku, tak ada satu pesan baru dari dia, ku
kirim kembali pesan itu. Tapi tak pula dibalasnya. Ku lanjutkan sahurku dengan
nasi goreng buatan ibu kosku. Hemmmmmm,,, nikmat. Selesai sahur tepat saat
imsyak. Ku lanjutkan untuk sholat subuh dan kembali pada kasurku yang empuk
untuk melanjutkan perjalanan ke pulau kapuk.
Pukul 09.00 ku terbangun
ku lihat pesanku dibalas olehnya. Seketika ku berkirim pesan seluler dengan dia.
Terselip rasa rindu mendalam pada dirinya. aku sangat dekat dengan dia, tapi
sampai saat ini kami tidak punya status hubungan. Terakhir jaln dengannya 2
minggu yang lalu. Komunikasi pun kadang tak lacar, dan yang aku tunggu adalah
jalan bersamanya karena aku merasakan kenyamanan saat bersamanya. Setelah
beberapa jam kami berkirim pesan seluler atau sms akhirnya kami memutuskan
untuk bertemu lagi sore ini. Karena aku tidak mungkin untuk membawa koperku
sendiri ku minta dia menjemputku.
Perjanjiannya sih jam
16.00 tapi dia belum kelihatan batang hidungnya. Melihat kasur yang empuk ku
ingin menunggu dia sambil tiduran. 17.35 dia baru sampai kos ku. Wah dasar
cewek kalau belanja lama nya,saking lamanya jadi lupa waktu dan akhirnya telat
kan? Keluar dari kamar dia menanyakan koperku. Setelah aku fikir kalau aku
pamitan pada ibu kos sekarang motor teman satu daerah yang aku bawa akan aku
taruh dimana? Akhirnya sore itu kita pergi untuk buka puasa bersama dan
menemani dia mencari kenang-kenangan untuk temannya.
Sebelum puasa aku pernah
jalan dengan dia, aku pernah mencium pipinya saat dibioskop dan itu yang
membuatnya marah padaku. Tapi pada akhirnya dia memaafkan aku. Dengan skuter
matic ku awali langkahku dengannya. Sore itu dia ingin berbuka dengan ayam,
kamipun ke warung friedchiken yang lumayan terkenal di jogja. Biasanya aku
panggil dia sayang tapi karena ini masih awal perjalanan panggilan itu belum
aku sebut biasalah malu alias jaga image. Dan setelah makan barulah kami
berkeliling malioboro untuk mencari kenang- kenangan. Akan tetapi dia
mengingatkan aku untuk sholat maghrib. Berhentilah kami di masjid untuk sholat
maghrib. Seusai sholat kami menuju malioboro untuk mencari kenang- kenangan.
Seketika ku sahut tangannya dan ku gandeng dia, sampailah di tempat jual
pernak- pernik dia asik memilih aku hanya menemaninya dan membantu dia memilih.
Dapatlah apa yang dia cari yaitu gelang. Lanjut aku dan dia pergi untuk nongkrong
di alun- alun. Teringat dulu pernah ku ajak dia ke beteng tapi belum jadi alias
gagal, ku ajaklah dia ke benteng.
Sesampainya di benteng ku
gandeng tangannya dan duduk berdua di atas benteng. Disana banyak pasangan yang
sedang memadu kasih. Duduklah kami ditangga. Aku hanya melihat wajahnya, dia
melihat langit dan sekitarnya dan saat melihat bukan yang masih separuh dia pun
berkata “bulannya separuh ya?” aku bingung apa maksud dari kata- katanya “emang
kenapa?” sejenak dia terlihat berfikir dan menjawab “seperti aku besok, kamu
dan yang lain akan pergi meninggalkan jogja, aku sendirian dan tak lagi ada
teman untuk jalan” dalam hati aku tertawa, dan menjawab”kan Cuma satu bulan’’
mungkin inilah jalan pikiran cewek melankolis, menghayati setiap peristiwa. Dia
merunduk dan terlihat sedih, ku pegang tangannya dan ku berkata”masih banyak
waktu”. Sekilas ku pandang matanya yang mulai terisi dengan airmata aku kasihan
padanya. Ke pegang pipinya dan aku berkata “jangan sedih gitu dong,,,” dia memandangku dan tersenyum sambil berkata
“iya...”.
Waktu sudah menunjukkan
pukul 19.25, aku tahu jarak tempat ini sampai rumahnya jauh. Aku kasihan
padanya tapi aku salut akan satu hal dia adalah gadis yang penuh semangat.
Selelah apapun dia akan terus menjalani. “mau pulang jam berapa kamu? Sekarang
sudah jam 19.25?” dia langsung mendekap tanganku dan berkata “5 menit lagi ya.
Karena ini malam terakhir kamu dijogja, dan bulan depan belum tentu kita bisa
seperti ini lagi”baiklah ku penuhi keinginannya, tak sedikitpun aku curiga
dengan kata- katanya. Lima menit sudah berlalu. Aku dan dia pun turun dari
benteng dan mengambil motor lalu kami pulang. Dia mengantarkan aku ke kos.
Saat aku sudah sampai di
kos kami pun berpisah. Dan aku harus siap- siap untuk kepulanganku ke kampung
halaman esok hari.
***
Minggu, pukul 11.20 aku
mulai terbang meninggalkan jogja. Sedih ku lihat jogja yang selama satu tahun
ini memberiku banyak hal.
***
Sesampaiya di kampung
halaman aku masih berkomunikasi dengannya, samapi terkadang aku yang jarang bahkan
tak ku balas smsnya, ku dengar dia jatuh sakit. Siang itu dia sms aku, katanya
dalam sms itu “aku sakit” lalu ku tanya dia kenapa dan bagaimana keadaannya dia
bilang dia baik- baik saja. Mendengar itu aku tak kawatir. Dan sms tak aku
lanjutkan. Aku tahu selama ini aku dan
dia dekat tapi kami tak mengikat hubungan kami dengan kata pacaran.Aku selalu
menyia-nyikannya, kadang sms nya jarang aku balas, aku pun jarang menghubungi
dia semenjak ada di kampunghalaman. 1 minggu sudah berlalu, tak ada kabar dari
dirinya dan aku pun mengiriminya pesan berikut :
“hai...”
Satu jam kutunggu balasan
darinya tak ada satu pesan yang datang darinya. Sampai akhirnya ada sms masuk
dan itu sms dari dia,
“maaf ini siapa ya? Aku
kakaknya dewi”
Aku pun kaget kenapa pesan
ini yang membalas buka dia tapi kakaknya. Aku fikir mungkin dia sedang pergi
jadi yang membalas pesan ini kakaknya, aku pun mulai mengetik kembali smsku
untuknya.
“dewinya kemana kak? Saya
teman kuliahnya ”
Lama sekali kutunggu
balasan sms itu, 2 jam lamanya aku menunggu pesan darinya, akhinya di balas.
“dek mungkin ini berita
buruk yang baru kamu dengar. Dewi sudah berpulang kerahmatullah 3 hari yang
lalu...”
Syok aku membaca pesan
itu, masih ku ingat kata- kata terakhirnya saat kami masih di benteng, dia bilang
“seperti aku besok, kamu dan yang lain akan pergi meninggalkan jogja, aku
sendirian dan tak lagi ada teman” apa itu adalah kata- kata perpisahan
dengannya? Aku sungguh tak menyangka dia pergi secepat ini, dalam hati aku
tidak percaya, bahkan aku pun menentang apa yang dikatakan kakaknya, tak dapat
berfkir jernih aku pun mengirim pesan
“gak mungkin kak, seminggu
yang lalu dia masih berkomunikasi dengan saya, ”
Tak lama kakaknya pun
membalas smsku
“kami se keluargapun tidak
percaya, tapi ini nyata dek. Dewi sudah berpulang disisi Allah. Mungkin
seminggu yang lalu dia masih bisa berkomunikasi,saat itu dia memang sakit tapi
belum terlalu parah, tapi malamnya dia mengeluh dadanya sakit, kami sekeluarga
membawanya kerumahsakit dan dokter memfonis jantung dewi sudah tidak berfungsi
dengan baik. Kami tidak tahu kalau selama ini dia mengidap lemah jantung. 2
hari dirumahsakit tak membuat keadaannya membaik justru semakin memburuk, dan
jum’at malam pukul 20.00 dia menghembuskan nafas terakhirnya dek”
Air mataku menetes, aku
memang laki- laki tapi aku tak lagi bisa menahan air mata ini. Teman dekat,
calon pacarku saat ku kembali ke jogja nanti sudah berpulang ke rahmatullah.
Tak ku sangka malam itu adalah malamterakhirku dengannya seperti apa yang dia
katakan “bentar lagi ya. Karena ini malam terakhir, bulan depan belum tentu
kita bisa seperti ini lagi”. Aku mulai tak berdaya dan apa yang harus aku
lakukan, saat ku kembali ke jogja nanti tak ku temui lagi wajahnya yang
terkadang marah, ceria, penuh semangat dan selalu menghadapi semua dengan
senyuman. Sesalku dalam hati, karena aku dulu menyia-nyiaka kehadirannya. Dan
saat ini dia sudah pergi,....
Semoga dia bahagia
disana,,,
Terimakasih sudah
menemaniku di malam terakhirku dijogja bulan agustus itu,,,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar